Belajar Mental Health Jalur Drakor "Daily Dose of Sunshine"

Beberapa hari yang lalu menamatkan drakor terbaru judulnya Daily Dose of Sunshine. Awalnya tidak terlalu tertarik menonton, tapi karna aktrisnya ada Park Bo Young, jadi mencoba menonton. Alasan suka PBY karna tanggal lahir kita sama banget, tanggal bulan bahkan tahun juga. Jadi merasa seperti punya kembaran gak sih, wkwkwk. Ngarepnya jauh banget sih. Intinya ya mulai nonton karena ada PBY, udah sih itu aja alasannya. Bahkan gak ngeh man lead nya itu yang mana. Pokoknya mulai nonton aja.

Drakor ini bercerita tentang kehidupan perawat di poli kejiwaan (kalau di Indonesia sejenis RSJ kali ya). Ada banyak dialog yang quoteable banget dan sangat related dengan kehidupan sehari-hari. Saking banyaknya sepertinya mau bahas 3 poin yang jleb banget buat saya sendiri. Terutama scene yang tentang ibu kena psedodementia, ini related bangetttt. Oke mari mulai cerita.

1. Kasus bipolar

Bercerita tentang wanita usia 40an tahun yang terkena bipolar, padahal dari segiapapun dia itu sudah perfect. Cantik, kaya, keluarga terpandang, punya suami kaya. Tapi ternyata semua itu tidak membuat dia bahagia. Bahkan sampai dirawat di poli kejiwaan. Setelah ditelusuri, ternyata ini berkaitan dengan pola asuh ibunya sendiri. Sedari kecil, ibunya selalu memilihkan semua hal buat anaknya. Tujuan ibunya baik, agar si anak selalu mendapatkan yang terbaik. Tapi sayangnya, terbaik versi ibu ternyata bukan terbaik versi anak. Bahkan sampai usia dewasa si anak merasa dia tidak memiliki kebebasan, tidak bisa memilih mana yang terbaik untuk dirinya sendiri. Bahkan dalam menikahpun, suaminya berdasarkan pilihan ibunya. Dan si anak hanya bisa menuruti semuanya karena merasa bahwa ibunya memilihkan yang terbaik, meskipun dia merasa tidak nyaman. 

Lalu, treatmentnya si ibu mulai sadar bahwa dia tidak bisa memaksakan pilihannya. Anaknya diberikan keluasaan untuk memilih mana yang ingin dia pilih. Dalam scenenya, si ibu mengira anaknya suka buah anggur, ternyata anaknya membenci anggur. Akhirnya ketika ibu itu tersadar, dia membawakan berbagai jenis buah supaya anaknya bisa memakan buah yang dia suka. Anaknya diberikan kesempatan untuk memilih.

Ini jleb banget, mengingatkan saya sebagai orangtua. Bahwa seringkali orangtua memberikan sesuatu tanpa bertanya, tanpa memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih, tanpa menanyakan pendapatnya. Karena merasa bahwa keputusan orangtua adalah yang terbaik, padahal tidak selamanya. Anak juga punya hak menentukan mana yang ingin mereka pilih. Memberikan kebebasan sepenuhnya juga kurang tepat, tapi setidaknya memberikan kepercayaan kepada anak untuk memilih apa yang dia suka, apa yang ingin dia lakukan.

2. Kasus Psedodementia

Episode ini berkisah tentang seorang ibu pekerja yang punya banyak kesibukan. Ternyata anaknya yang SMA mengalami perundungan di sekolah. Si ibu makin banyak hal yang harus dipikirkan. Ia membawa anaknya ke psikiater, tapi ternyata di sesi konsultasi itu, dokter malah menyarankan si ibu yang harus memeriksakan diri. Awalnya si ibu menolak, hingga tanpa sadar si ibu ini mengalami psedodementia Jadi semacam lupa ingatan tapi singkat. Ketika si ibu ini malah menyapa dengan ramah orangtua dari anak yang sudah membully anaknya, padahal di pertemuan sebelumnya ibu ini marah-marah dan kesal kepada orangtua pembully. Saat itu dia sadar bahwa ia harus konsultasi ke psikiater.

Saat sesi konsultasi, dia bertanya kepada dokter. Anaknya juga sakit karena pembullyan, apa tidak mengapa malah ibunya yang fokus berobat dulu. Lalu dijawab, apakah ia rela kehilangan ingatan permanen (karena membiarkan penyakitnya) , kehilangan memori tentang anaknya apakah ia siap?

Dari dialog ini saya belajar, aaah iya! seorang ibu biasanya selalu mendahulukan apa-apa tentang anaknya. Sampai lupa bahwa dirinya sendiri juga perlu dirawat oleh dirinya sendiri. Ada kata-kata yang jleb banget " Jangan berjuang terlalu keras, kamu akan kesulitan". 

Seringkali karena keinginan yang sangat besar untuk memberikan yang terbaik kepada anak, seorang ibu melupakan bahwa dirinya pun memiliki keterbatasan. Ada kalanya lelah yang perlu istirahat sejenak, ada kalanya perlu waktu untuk diri sendiri. Sekedar menulis buku diary atau melakukan hal yang ingin dilakukan di luar peran seorang ibu. Istilahnya selflove. Seorang ibu harus mencintai dirinya sendiri. Seorang ibu harus memiliki banyak cinta agar bisa memberikan cinta itu kepada anak dan sekitarnya. 

Berlibur atau sekedar me time tanpa anak-anak bisa dilakukan untuk merawat dan menyenangkan diri sendiri. Ayo ibu! sayangi dirimu, beristirahatlah sejenak jika perjalanan dirasa sangat melelahkan.

3. Jurnal Pujian

Nah kalau ini tentang treatment yang diberikan kepada pasien depresi yang selalu merasa tidak enakan, selalu ingin membahagiakan oranglain. Tanpa sadar, hal seperti itu merusak mental juga. Diri kita sendiri berhak kok untuk menolak, diri kita tidak bertanggung jawab penuh terhadap kesedihan orang lain. Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Tapi apresiasilah diri sendiri.

Sesekali jika dirasa perlu, memuji diri sendiri itu penting. Setelah melewati hari yang berat, tantangan yang berat. Katakanlah pada diri sendiri " Hay diriku, kamu hebat sudah bisa melalui semua ini!" 

Jika bukan diri sendiri yang mengapresiasi, maka siapa lagi?. Sepertinya kuncinya menjaga kesehatan mental itu adalah mengurangi ketergantungan kepada orang lain. Nah iya, jangan menunggu apresiasi dari orang lain, tapi pujilah diri sendiri karena sudah melalui hal berat dengan baik. Jangan sampai harga diri kita sendiri pun rendah di hadapan diri kita sendiri. Kita ini berharga kok. Apresiasilah keberhasilan sekecil apapun yang kita lakukan.


Sebenarnya masih banyak hal yang ingin dibahas. Dari drama ini, mengingatkan saya bahwa mengapresiasi diri sendiri itu penting. Support kita kepada orang yang mengalami masalah mental juga penting. Ternyata tidak semua orang itu kuat, setiap orang punya batas mental masing-masing. Saling berempati untuk menjaga kesehatan mental orang di sekitar kita. Oke ratingnya 9.5/10 untuk drama ini. 

Oh iya selain tema psikiatri yang jadi fokus utamanya, romantisnya juga ada kok. Romannya tipis-tipis yang bikin gemes. Apalagi tokoh dokter bedah kolorektral yang sweet banget. Selalu support buat orang terkasihnya. Pokoknya rekomended banget buat yang suka drama ringan tapi banyak pelajarannya.

Rasanya kayak ikut kuliah umum psikologi jalur drakor, hehehe.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

sekolah impres di kaki bukit Sadahurip

Harimau sakit Gigi || Dongeng

Aliran Rasa Kelas Ulat