sekolah impres di kaki bukit Sadahurip
40 hari menjalani hidup di Tanah Sukahurip ini, membuat mataku terbuka lebar tentang makna pendidikan.
Membuatku mengerti tentang sulitnya mengajarkan huruf A, B,C.
Membuatku mengerti mengapa masih ada anak kelas 6 SD yang tak lancar membaca.
Membuatku tak lagi heran ketika ku tanyakan tentang perkalian, anak-anak banyak yang diam.
Membuat aku banyak mengerti… bahwa pendidikan yang kucicipi dengan mudah… rupanya tak semudah yang bisa mereka dapatkan disini.. Di tanah yang subur, di kaki bukit Sadahurip ini….
Aku ingin jadi sarjanaTulisan "Aku Mau Jadi SARJANA", sekilas gambarnya mengingatkan pada gambar sarjana di kotak kapur tulis. Ya.. Karena mereka hanya mengenal kapur tulis kawan. Mungkin itu satu-satunya penyambung ilmu yang dimiliki sekolah ini. Hanya dengan alat itu, guru mengajarkan bagaimana caranya menulis, menghitung, membaca. Jangan berharap lebih kau akan menemukan proyektor, LCD, infokus.. Bahkan spidol, whiteboard sulit kau temui disini. Kursi, meja dan lemari yang kau temui.. Layaknya barang yang selayaknya disimpan di gudang. Atap-atap yang lebih pantas disebut sampah karna sudah tak berfungsi lagi untuk melindungi anak-anak dari panas dan hujan. Dinding transparan yang membuatmu bisa leluasa melihat bukit hijau di belakang sekolah. Jalan berbatu yang mengantarkan kaki-kaki kecil itu melangkah mencari sedikit ilmu, namun yang sering didapati, guru mereka tak kunjung datang mengajar.
hmm -.-"
Itu hanya potret kecil dari pendidikan di negeri ini kawan….
Lalu ..
Salahkah ketika sebagian dari mereka tak lancar membaca?
Salahkah ketika mereka hanya menunduk malu ketika ditanya empat dikali enam sama dengan?
Salahkah ketika pagi-pagi mereka sudah pulang ke rumah karena guru mereka tak kunjung datang?
Salahkah ketika mereka tak ingin melanjutkan sekolah?
wallahu'alam
Membuatku mengerti tentang sulitnya mengajarkan huruf A, B,C.
Membuatku mengerti mengapa masih ada anak kelas 6 SD yang tak lancar membaca.
Membuatku tak lagi heran ketika ku tanyakan tentang perkalian, anak-anak banyak yang diam.
Membuat aku banyak mengerti… bahwa pendidikan yang kucicipi dengan mudah… rupanya tak semudah yang bisa mereka dapatkan disini.. Di tanah yang subur, di kaki bukit Sadahurip ini….
![]() |
| aku ingin jadi SARJANA |
Aku ingin jadi sarjanaTulisan "Aku Mau Jadi SARJANA", sekilas gambarnya mengingatkan pada gambar sarjana di kotak kapur tulis. Ya.. Karena mereka hanya mengenal kapur tulis kawan. Mungkin itu satu-satunya penyambung ilmu yang dimiliki sekolah ini. Hanya dengan alat itu, guru mengajarkan bagaimana caranya menulis, menghitung, membaca. Jangan berharap lebih kau akan menemukan proyektor, LCD, infokus.. Bahkan spidol, whiteboard sulit kau temui disini. Kursi, meja dan lemari yang kau temui.. Layaknya barang yang selayaknya disimpan di gudang. Atap-atap yang lebih pantas disebut sampah karna sudah tak berfungsi lagi untuk melindungi anak-anak dari panas dan hujan. Dinding transparan yang membuatmu bisa leluasa melihat bukit hijau di belakang sekolah. Jalan berbatu yang mengantarkan kaki-kaki kecil itu melangkah mencari sedikit ilmu, namun yang sering didapati, guru mereka tak kunjung datang mengajar.
![]() | |
| kelas beratapkan langit |
![]() |
| dinding bergambar kebun |
hmm -.-"
Itu hanya potret kecil dari pendidikan di negeri ini kawan….
Lalu ..
Salahkah ketika sebagian dari mereka tak lancar membaca?
Salahkah ketika mereka hanya menunduk malu ketika ditanya empat dikali enam sama dengan?
Salahkah ketika pagi-pagi mereka sudah pulang ke rumah karena guru mereka tak kunjung datang?
Salahkah ketika mereka tak ingin melanjutkan sekolah?
wallahu'alam



Komentar
Posting Komentar