ROOM 19
CINTA
Membicarakan urusan cinta di usia middle 30, sudah menikah dan memiliki anak. Apakah masih relevan?
Payahnya, gelora menulisku menjadi kalau berurusan dengan cinta.
Oke sedikit deep talk dengan diri sendiri tentang ini. Kita anggap saja, masih sangat relevan kok membahas ini, di usia dan kondisi seperti ini. Setiap orang memiliki "room 19" masing-masing. Dan sejujurnya masih ada beberapa hal yang sengaja ku simpan di ruangan itu. Seharusnya memang kubuang, nyatanya, sampai saat ini hanya ku biarkan ia masih didalam. Dengan masih ada pertanyaan tersisa. Mengapa sesulit itu untuk membuangnya. Itu bukan kali pertama.
Dua belas tahun berselang, dimana aku masih mengingat tanggal dan semua kejadian di hari itu. Pertanyaan yang masih tersisa adalah kenapa saat itu, rasanya seberat itu ? Bahkan hingga saat ini, jika aku membuka kotak di ruangan itu, rasanya masih sama semenyakitkan yang kurasa saat itu.
Ah apa benar, dalam hidup kita hanya diberikan satu kali kesempatan jatuh cinta? Satu kali kesempatan merasakan debaran jantung berdetak kencang saat dekat dengannya?
Entahlah...
Tak berniat membuka kembali kotak itu, hanya akan membuat luka. Tapi akhirnya aku mengerti sekarang, jawaban atas satu pertanyaan. Mengapa dulu rasanya seberat itu?
Kali itu pertama kalinya, di usiaku 21 tahun, merasakan cinta yang berbalas. Perasaan terlalu bahagia nyatanya memang membuat rasa sakit yang lebih merana. Bekas yang sulit dihilangkan bahkan mungkin hingga entah kapan. Tidak menyalahkan siapapun, perasaan kita adalah tanggung jawab diri kita masing-masing.
Tapi setidaknya, aku merasa lega. Itu jawaban dari pertanyaan, mengapa hatiku masih saja bergetar bahkan walau hanya melihatnya dari kejauhan. Meskipun sudah sekian tahun tidak pernah mencari tahu bagaimana kabarnya, tidak pernah berkomunikasi apapun. Nyatanya, bekas yang dia tinggalkan terlalu dalam ku yakini.
Apakah artinya aku tidak move on? hmm tidak juga sih ya. Kalau tidak move on bagaimana caranya bisa punya anak sampai 2 begini? hhee.
Meskipun cinta dan pernikahan adalah dua hal yang idealnya bersatu, tapi ada banyak kisah pernikahan tanpa cinta. Apakah artinya pernikahanku tanpa cinta? tidak juga.
Lelaki yang saat ini jadi takdirku, adalah yang terbaik yang Allah kirimkan. Yang dengan ketulusannya membuat luka itu tertutup dengan sendirinya, walaupun tidak sepenuhnya. Aah, salah satu isi room 19 yang mungkin suamiku tau, tapi tidak terlalu mempedulikannya. Baginya, istrinya masih di sampingnya, mendampingi anak-anaknya dan menua bersama, sudah lebih dari cukup.
Komentar
Posting Komentar