Mendidik Anak Laki-Laki menjadi Qowwam (1) #FitrahSeksualAnak 7
Bismillah
Mendidik anak laki-laki itu sepaket harus menyiapkan mereka menjadi pemimpin keluarga kelak. Nah kalau bertanya, memang pemimpin keluarga seperti apa yang ideal itu? Jadi.. Kita sebagai orangtua harus mendidik anak laki-laki seperti bagaimana?
Islam selalu punya solusinya
~sebelumnya tulisan ini banyak terinspirasi dari sebuah buletin online dari website Parenting Nabawiyyah~
Dimulai dari kita kaji surat An Nisa ayat 34, ayat yang berbicara tentang sifat Qowammah ( kepemimpinan) yang WAJIB ada pada sosok laki-laki. Terutama yang sudah berperan sebagai suami juga ayah.
Allah SWT berfirman:
اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَاۤ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ ۗ
"Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya....
(QS. An-Nisa': Ayat 34)
Ayat ini menggabungkan banyak kata penguat yang menegaskan dengan setegas-tegasnya bahwa laki-laki harus benar-benar memiliki sifat kepemimpinan dan pendidik sejati.
Kata-kata penguat itu adalah
1. قَوَّامُوْنَ
Yang memiliki arti :
1. Pilar kokoh yang digunakan untuk penopang dan pengatur agar rapi (Al Mishbah al Munir, Ahad bin Muhammad Al Fayumi).
2. Qiwam dengan Kasroh: makanan yang membuat manusia bisa tegak berdiri. Qowam dengan fathah: Adil dan seimbang (Al Mishbah al Munir, Ahad bin Muhammad Al Fayumi).
3. Al Qoyyim: Tuan/pemimpin. Qoyyim Qoum: pemimpin umat mengatur semua urusan mereka. Dikatakan: Fulan Qiwam keluarganya, berarti: Dialah yang mengurusi urusan mereka. (Mukhtar ash Shihah, Abu Bakar Ar Razi)
4. Qoma amir terhadap rakyatnya: walinya (yang menolong, membela, mewakili dan
mengurusi) (Asas al Balaghah, Az Zamahsyari)
5. Qiyam terhadap sesuatu: memperhatikan dan menjaga sesuatu itu (Mu’jam Mufradat Al Quran, Al Ashfahani)
Dari lima nukilan tersebut, bisa kita bayangkan tugas seorang suami dengan kata Qowamah itu. Menjadi lebih dalam rasanya, melihat asal katanya.
penjelasan beberapa ulama tentang kata tersebut,
1. Ibnu Katsir: Seorang suami Qoyyim terhadap istrinya artinya, dia pemimpinnya, pembesarnya, hakimnya dan pendidiknya jika bengkok.
2. Al Qurthubi: Suami bertanggung jawab untuk mengurusinya, mendidiknya,
meletakkannya di rumah, melarangnya berpenampilan mencolok di luar.
3. Sayyid Quthub: Jika lembaga-lembaga yang lebih kecil dan murah; seperti lembaga keuangan, industri, perdagangan dan yang lainnya tidak diserahkan
kecuali kepada orang yang ahli, yaitu orang-orang yang memiliki kemampuan
dalam bidang tersebut dan telah berlatih melebihi bakat yang dimilikinya berupa
manajemen dan kepemimpinan. Maka kaidah ini pun harus diberlakukan bagi
lembaga rumahtangga yang merupakan penghasil unsur paling mahal di semesta
ini; yaitu unsur manusia....
Untuk itulah, wanita dibekali kelembutan, kasih sayang, cepat merespon dan
bergerak bagi kebutuhan anak tanpa
kesadaran dan berpikir terlebih dahulu....
Karakter ini bukan tempelan, tetapi tertancap dalam pada penciptaan organnya, otot, akal dan jiwanya.
Adapun laki-laki dibekali ketegaran dan
ketabahan, lambat merespon dan memenuhi panggilan, menggunakan kesadaran dan pikiran sebelum bergerak dan memenuhi panggilan....Karena seluruh tugasnya memerlukan ketenangan dan berpikir sebelum melangkah maju...Dan ini pun karakter yang tertancap dalam pada diri laki-laki.
Dari keseluruhan penjelasan para ulama di atas, cukup menjadi perenungan dalam bagi para suami dan semua laki-laki yang akan menjadi suami. Bahwa Qowamah tidak sesederhana yang dibayangkan. Tidak seumum kata kepemimpinan yang telah terkoyak-koyak maknanya hari ini.
Tetapi Qowamah bagi suami adalah kewajiban menjadi Pilar kokoh. Tempat
bersandar yang tegar. Tempat penopang yang menjamin tidak robohnya bangunan
rumah tangga. Tempat kenyamanan bagi semua penghuni rumah.
Qowamah bagi suami adalah kewajiban menjadi sumber nafkah untuk keberlangsungan. Nafkah yang memberi fasilitas hidup dan ketenangan bagi seluruh anggota rumah. Suami adalah ladang yang lapang nan hijau bagi merumputnya semua gembala.
Qowamah bagi suami adalah kewajiban menjadi pemimpin dengan semua makna kepemimpinan. Merencanakan, mengatur, menjaga, memperhatikan dan sebagainya. Dengan tugas ini, maka suami harus menyediakan waktunya 24 jam, kapan saja untuk semua keperluan rakyatnya di rumah.
Qowamah bagi suami adalah kewajiban menjadi keadilan dan keseimbangan. Adil dan seimbang mengharuskan jiwa yang tenang, tidak emosional, berada di tengah, bertindak hanya dengan bukti dan data.
Tidak memutuskan kecuali dengan ilmu.
Qowamah bagi suami adalah kewajiban menjadi pendidik. Keteladan dan ilmu
merupakan mata air deras lagi menyejukkan yang harus dimiliki oleh suami sang guru. Pendidik tak hanya mengajarkan ilmu. Tetapi memberi keteladanan atas aplikasi ilmu tersebut. Juga mengevaluasi atas keberhasilan pendidikannya. Meluruskan jika ada yang bengkok dengan jiwa seorang pendidik murni. Terus mengawalnya hingga menghasilkan lulusan membanggakan.
Sebesar inilah tugas para kaum laki-laki.
Jadi, tidak sesederhana orang
mengeluarkan kata cinta dari lisan yang tak bertulang itu. Maka, seharusnya setiap suami benar-benar ‘memaksakan’ dirinya menuju seluruh sifat di atas. Demikian juga setiap anak laki-laki, harus dilahirkan dididik hingga mampu menjadi Qowwam bagi para istrinya. Inilah Qowamah yang harus dipertanggungjawabkan para suami di hadapan Allah kelak!
Komentar
Posting Komentar