Mendidik Anak Laki Laki Menjadi Qowwam (4)

Nah bagian terakhir nih dari bahasan ayat 34 surat An Nisa. Oh iya sebenarnya ayat ini berbicara juga tentang wanita, cuma yg dibahas hanya bagian awalnya saja tentang kepemimpinan seorang laki-laki atas perempuan.

Lanjutan dari postingan sebelumnya ada 2 poin penting yang menjadi syarat munculnya sifat qowammah pada laki-laki yg dijelaskan dari ayat 34 An Nisa. Bagian pertama yg sudah dijelaskan adalah tentang Fitrah kelebihan yg Allah sudah berikan, kelebihan ini maksudnya kelebihan akal, agama maupun kekuatan.

Allah SWT berfirman:

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَاۤ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ  ۗ 

"Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya.

Sekarang poin kedua yaitu
وَّبِمَاۤ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ

dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya.

Ya, NAFKAH. Ayat ini, lebih menyoroti nafkah lahir yaitu harta. Karena selama seorang laki-laki sehat, nafkah batin tak perlu dibahas panjang lebar. Tetapi ada laki-laki yang siap menafkahi batin, ternyata terlalu menyederhanakan nafkah lahir.

Kehilangan tugas memberi nafkah harta bagi keluarga, artinya kehilangan kepemimpinan.

Jika kelebihan di poin satu disebut oleh Al Biqo’i sebagai kemampuan mauhibah, maka poin dua ini disebut sebagai kemampuan kasbi (diusahakan dan bukan bawaan).

Dengan demikian, seorang laki-laki harus menjaga anugerah bawaan (fitrah)nya sebagai laki-laki. Dan laki-laki pun harus berupaya sekuat tenaga untuk mendatangkan nafkah bagi keluarganya. Untuk kewajiban memberikan nafkah harta, sebatas kemampuan maksimalnya. Tidak mesti harus banyak. Sebagaimana firman Allah,

Allah SWT berfirman:

...  وَّمَتِّعُوْهُنَّ عَلَى الْمُوْسِعِ قَدَرُهٗ وَ عَلَى الْمُقْتِرِ قَدَرُهٗ  ۚ  مَتَاعًا ۢ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ  حَقًّا عَلَى الْمُحْسِنِيْنَ

... Dan hendaklah kamu beri mereka mut'ah bagi yang mampu menurut kemampuannya dan bagi yang tidak mampu menurut kesanggupannya, yaitu pemberian dengan cara yang patut yang merupakan kewajiban bagi orang-orang yang berbuat kebaikan."
(QS. Al-Baqarah: Ayat 236)

Yang paling penting adalah tanggung jawab penuh seorang laki-laki dalam mencari nafkah.
Toh, semuanya masih terbuka peluang untuk berubah lebih baik. Nabi menyebut Muawiyah sebagai orang yang miskin tak punya harta. Tetapi di kemudian hari setelah Rasul wafat, Muawiyah adalah pemimpin besar muslimin yang memiliki banyak harta.

KELEBIHAN dan NAFKAH, adalah dua sejoli yang harus ada kedua-duanya, terpatri pada diri laki-laki. Barulah ia layak disebut sebagai pemimpin dan pendidik.

Yang dengan nahkoda seperti ini, rumah tangga akan sangat terjaga perjalanannya. Namun, jika hilang salah satunya atau bahkan kedua-duanya, maka otomatis tercabutlah Qowamah dari pundak suami. Dan rumah menjadi bahtera tanpa nahkoda.

Nah.. Semoga kita termasuk orantua yang bisa mempersiapkan anak laki-laki kita menjadi qowwam. Menjadi pemimpin terbaik dalam keluarga dan masyarakat di masa depan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

sekolah impres di kaki bukit Sadahurip

Harimau sakit Gigi || Dongeng

Aliran Rasa Kelas Ulat