MEMBANGKITKAN FITRAH SEKSUALITAS PADA ANAK #3
🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸
MEMBANGKITKAN FITRAH SEKSUALITAS PADA ANAK
🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸
⏩_Kelompok Bunda Pembelajar_
🌸 APA ITU FITRAH SEKSUALITAS? SEBERAPA PENTINGKAH UNTUK KITA BANGKITKAN?
Fitrah seksualitas adalah *tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati*. Sangat penting sekali membangkitkan fitrah seksualitas ini. Menumbuhkan Fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada Ayah dan Ibu.
🌸 APA TANTANGAN YANG KITA HADAPI SAAT INI?
*1.* Peningkatan kekerasan seksual pada anak
*2.* Maraknya kasus LGBT dan penyimpangan seksual di masyarakat
*3.* Banyaknya konten pornografi atau pornoaksi yang bisa diakses anak melalui internet, tontonan televisi maupun lingkungan sekitar
🌸 BAGAIMANA MEMBANGKITKAN FITRAH SEKSUALITAS PADA ANAK
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya bahwa menumbuhkan fitrah seksualitas banyak tergantung pada peran orangtua. Mengapa? Karena ternyata proses ini bisa dimulai pada anak sejak usia dini dimana peran orangtua masih sangat dominan.
Fitrah seksualitas pada *anak usia dini* lebih ditekankan bagaimana memberikan *pemahaman pada anak akan kondisi tubuhnya, pemahaman akan lawan
jenisnya, dan pemahaman untuk
menghindarkan diri dari kekerasan seksual*.
Beberapa Hal yang bisa orangtua ajarkan untuk membangkitkan fitrah seksual anak :
1⃣ AJARI ANAK TENTANG KONSEP AURAT
Aurat adalah hal yang harus ditutupi dan menimbulkan malu jika dilihat. Meski belum wajib bagi anak-anak untuk menutup auratnya dengan sempurna, namun tetap perlu kita ajarkan apa saja bagian tubuh mereka yang tergolong aurat dan harus ditutupi.
Kita memperkenalkan bahwa aurat laki-laki adalah antara pusar dan lututnya. Sedangkan aurat perempuan adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan
2⃣ JELASKAN ADAB KESOPANAN
Adab kesopanan berhubungan dengan *rasa malu* yang harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Jangan biasakan anak-anak,walau masih kecil, bertelanjang di depan orang lain; misalnya, ketika keluar kamar mandi, berganti pakaian, dan sebagainya. Menjaga rasa malu meski di hadapan orangtua, kakak maupun adik. Ajarkan pula agar adik dan kakak tidak mandi bersama-sama untuk menjaga penglihatan mereka dari aurat.
3⃣ KENALKAN KONSEP THAHARAH (BERSUCI)
Menumbuhkan fitrah seksualitas pada anak bisa kita lakukan sejak ia menjalani *toilet training*. Kita dapat mengajarkan anak untuk buang air di toilet, beristinja’ (cebok), dan seiring usianya bertumbuh, kita juga bisa mengajarkan mereka tentang najis serta perihal wudhu dan sholat.
Sejak usia 3 tahun kita juga dapat memberitahukannya tentang siapa saja yang boleh membantu mandi dan beristinja’, sambil terus melatih kemandiriannya agar dapat melakukan sendiri tanpa dibantu siapapun.
Dengan cara ini, akan terbentuk pada diri anak sikap hati-hati, mandiri, mencintai kebersihan, mampu menguasai diri, disiplin, dan sikap moral yang memperhatikan tentang etika sopan santun dalam melakukan hajat.
Sudah banyak kasus pelecehan seksual saat anak dibantu orang lain ketika buang air. Jadi pastikan anak-anak kita mampu melakukan skill dasar dalam thaharah untuk mencegah hal yang tak diinginkan dari orang lain.
4⃣ TANAMKAN JIWA FEMININ PADA ANAK PEREMPUAN DAN JIWA MASKULIN PADA ANAK LAKI-LAKI
Secara fisik maupun psikis, laki-laki dan perempuan mempunyai perbedaan mendasar. Perbedaan tersebut telah diciptakan sedemikian rupa oleh Allah. Adanya perbedaan ini bukan untuk saling merendahkan, namun semata-mata karena fungsi yang berbeda yang kelak akan diperankannya. Mengingat perbedaan tersebut, Islam telah memberikan tuntunan agar masing-masing fitrah yang telah ada tetap terjaga.
Allah berfirman,
_”Dan laki-laki tidaklah sama seperti perempuan”
(QS. Ali Imran: 36)._
Maka para orangtua perlu *memperkenalkan identitas seksual anak dan mengajarkannya agar bersikap dan berperilaku sesuai jenis kelaminnya tersebut*. Berikan mainan yang sesuai identitasnya, misalkan boneka untuk anak perempuan dan robot untuk anak laki-laki.
Begitu pula dengan cara berpenampilan, ajarkan pada anak bahwa pakaian laki-laki berbeda dengan perempuan.
Selain itu telah jelas pula larangan dari Rasulullah saw dalam haditsnya, _“Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita, begitu pula wanita yang menyerupai laki-laki”_ (shahih HR. Ahmad).
Demikian pula dalam cara berpakaiannya, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita, begitu pula wanita yang memakai pakaian laki-laki” (shahih HR. Ahmad)
Di poin ini penting juga untuk kita cermati agar para ayah memperhatikan anak lelakinya dan memberikan teladan sebagai seorang laki-laki. Demikian pula para ibu agar memberikan pendidikan dan menjadi teladan bagaimana semestinya perempuan tampil dan bersikap. Kedekatan dan keteladanan yang dibangun sedari dini akan sangat menentukan kesuksesan anak-anak di masa balighnya kelak, dan mencegah terjadinya penyimpangan identitas seksual.
5⃣ AJARKAN ADAB MINTA IJIN DALAM RUMAH TANGGA
Termasuk di antaranya adalah mengucapkan salam ketika hendak masuk rumah, berdiri di sisi samping pintu dan tidak mengintip.
“Apabila Rasulullah saw mendatangi rumah orang, beliau tidak berdiri di depan pintu, akan tetapi di samping kanan atau kiri, kemudian beliau mengucapkan salam “assalaamu’alaikum, assalaamu’alaikum”, karena saat itu rumah-rumah belum dilengkapi tirai” (HR. Abu Dawud)
Sementara itu, untuk etika dalam rumah, anak-anak perlu kita ajarkan untuk meminta ijin ke kamar orangtua terutama di 3 waktu. Tiga ketentuan waktu yang tidak diperbolehkan anak-anak untuk memasuki ruangan (kamar) orang dewasa kecuali meminta izin terlebih dulu adalah: *sebelum shalat subuh, tengah hari, dan setelah shalat isya*.
Allah swt berfirman dalam Al Qur’an,
_“Hai orang-orang yang beriman hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepadamu tiga kali (dalam satu hari), yaitu sebelum shalat Shubuh, ketika menanggalkan pakaian (luar)mu, ditengah hari dan sesudah salat Isya’. Itulah tiga aurat bagimu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak pula atas mereka selain (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebagian kamu (ada keperluan) kepada sebagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang sebelum mereka meminta izin.”_
(QS. An Nur :58)
Tiga waktu ini merupakan waktu aurat, karena sering terbuka aurat pada waktu-waktu seperti itu. Maka ajarkanlah anak-anak kita baik yang belum baligh maupun telah mencapai baligh agar menegakkan adab ini.
6⃣ PISAHKAN TEMPAT TIDUR ANAK LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN
Rasulullah saw bersabda, “Perintahkan anak-anak kalian shalat pada usia 7 tahun, pukullah mereka jika meninggalkannya pada usia 10 tahun dan pisahkan di antara mereka tempat tidurnya. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Dari hadits ini Rasulullah saw memerintahkan agar para orangtua memisahkan tempat tidur anak-anak, yaitu anak laki-laki dan perempuan di usia 10 tahun.
Usia antara7-10 tahun merupakan usia saat anak mengalami perkembangan yang pesat. Anak mulai melakukan eksplorasi ke dunia luar. Anak tidak hanya berpikir tentang dirinya, tetapi juga mengenai sesuatu yang ada di luar dirinya.
Pemisahan tempat tidur merupakan upaya untuk menanamkan kesadaran pada anak tentang eksistensi dirinya. Jika pemisahan tempat tidur tersebut terjadi antara dirinya dan orang tuanya, setidaknya anak telah dilatih untuk berani mandiri. Anak juga dicoba untuk belajar melepaskan perilaku lekatnya (attachment behavior) dengan orangtuanya.
Jika pemisahan tempat tidur dilakukan terhadap anak dengan saudaranya yang berbeda jenis kelamin, secara langsung ia telah ditumbuhkan kesadarannya tentang eksistensi perbedaan jenis kelamin.
7⃣ KENALKAN KONSEP MAHROM DAN ADAB PERGAULAN
Mahram adalah orang-orang yang haram kita nikahi, atau secara sederhana dapat kita jelaskan pada anak bahwa mahram adalah orang yang boleh melihat dan menyentuh aurat kita. Jelaskan pula batasan aurat mana yang boleh dilihat oleh mahram dan non-mahram.
Untuk hal ini kita dapat menyimak madzhab Hambali mengenai batasan aurat anak kecil, dan rinciannya sebagaimana dipaparkan dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah (yang dikutip dalam muslimah.or.id),
“Tidak ada aurat bagi anak kecil yang belum berusia 7 tahun, maka boleh dilihat dan dipegang seluruh bagian badannya. Dan anak kecil laki-laki usia 7 sampai 10 tahun, auratnya adalah kemaluannya saja. Baik dalam shalat maupun di luar shalat. Adapun anak kecil perempuan usia 7 sampai 10 tahun auratnya dalam shalat adalah antara pusar hingga lutut. Dan dianjurkan baginya untuk menutup seluruh aurat dan memakai jilbab sebagaimana wanita baligh, dalam rangka ihthiyath (berhati-hati). Adapun auratnya (anak kecil wanita 7-10 tahun) di depan lelaki ajnabi (yang bukan mahramnya) adalah seluruh badannya, kecuali kepala, leher, kedua tangan hingga siku, betis, dan kaki. Dan anak perempuan usia 10 tahun auratnya sama sebagaimana wanita dewasa”
Membiasakan anak menutup aurat di hadapan mahram dan non-mahramnya akan membuat anak mampu menjaga dirinya saat dewasa nanti. Oleh karena itu kita perlu perhatikan benar pengajaran serta memberi contoh pada mereka.
Selain itu kita juga perlu mengajarkan adab dalam pergaulan untuk lebih peduli terhadap aurat diri dan teman-temannya. Kita dapat mengajarkan anak agar tidak bercanda berlebihan, seperti memelorotkan celana teman karena itu akan menampakkan auratnya.
8⃣ DIDIK ANAK TENTANG KONSEP MENUNDUKKAN PANDANGAN (GHADHUL BASHAR)
Menundukkan pandangan bermakna mengendalikan pandangan dari yang haram. Selain menutup aurat, kita juga perlu mengajarkan anak agar memalingkan penglihatan dari hal-hal yang dilarang Allah. Misalnya, ajarkan anak untuk *mengucap istighfar dan memalingkan pandangan ketika melihat aurat orang lain.*
Seringlah berdiskusi dan masukkan nilai di saat anak-anak bertanya, karena ini adalah golden moment untuk membangun pemahaman mereka.
9⃣ JELASKAN AYAT QUR’AN DAN HADITS YANG BERKAITAN DENGAN PENCIPTAAN MAKHLUK
Terkadang anak bertanya, “Ibu, aku muncul dari mana?” atau “Dari mana adik bayi lahir?”. Menjawab hal ini tidak melulu harus kita kupas secara ilmiah, karena itu tidak selalu diperlukan.
Berikanlah jawaban sebagaimana al Qur’an menjawab,
_“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”_ [An-Nahl:78]
Jangan berikan jawaban yang akan memancing rasa penasaran anak karena tidak semua penjelasan memberikan manfaat yang lebih besar daripada mudharatnya.
Komentar
Posting Komentar