FITRAH SEKSUALITAS ANAK #1
Hay materi Ke sebelas, Kali ini menarik karena biasanya kami (peserta di kelas ) langsung diberi materi, sedangkan Kali ini kelas dibagi 6 group untuk membahas tentang Pentingkah Membangkitkan Fitrah seksualitas Anak. Nah ini review dari kelompok 1 , Tim Lemari Ibu Petualang. Let's cek..
#niatnya mau banyak bercuap cuap dulu ,ah tapi lagi kerja kelompok buat tampil besok ..Hehehe .. Happy reading. ..
------------------------------------
*APA ITU FITRAH?*
Setiap anak lahir dengan fitrahnya masing-masing. Tugas orangtua adalah membangkitkan fitrah yang dimiliki anak, agar fitrah-fitrah tersebut mampu berkembang optimal.
Sebelum kita lebih jauh memahami fitrah seksualitas,ada baiknya kita memahami makna fitrah sesuai dengan pedoman hidup kita.
Merujuk pada pilihan ayat dalam Al Qur’an yakni Surat Ar Rum ayat 30.
_“maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada penciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui"_
*Pengertian*
Fitrah seksualitas adalah bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai dengan fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati.
*PRINSIP FITRAH SEKSUALITAS*
_Prinsip 1_ : Fitrah Seksualitas memerlukan kehadiran, kedekatan, kelekatan Ayah dan Ibu secara utuh dan seimbang sejak anak lahir sampai usia aqilbaligh (15 tahun)
_Prinsip 2_ : Ayah berperan memberikan Suplai Maskulinitas dan Ibu berperan memberikan Suplai Femininitas secara seimbang. Anak lelaki memerlukan 75% suplai maskulinitas dan 25% suplai feminitas. Anak perempuan memerlukan suplai femininitas 75% dan suplai maskulinitas 25%.
_Prinsip 3_ : Mendidik Fitrah seksualitas sehingga tumbuh indah paripurna akan berujung kepada tercapainya Peran Keayahan Sejati bagi anak lelaki dan Peran Keibuan sejati bagi anak perempuan. Buahnya berupa adab mulia kepada pasangan dan anak keturunan
*KENAPA SIH KITA PERLU MEMBERIKAN PENDIDIKAN FITRAH SEKSUALITAS PADA ANAK?*
Ada tiga tujuan utama yang ingin dicapai pada pendidikan fitrah seksualitas :
1. membuat anak mengerti tentang identitas seksualnya. Anak bisa memahami bahwa dia itu laki-laki ataupun perempuan.
2. mengenali peran seksualitas yang ada pada dirinya. Anak mampu menempatkan dirinya sesuai peran seksualitasnya.
Seperti cara berbicara, cara berpakaian atau merasa, berpikir dan bertindak.
Sehingga anak akan mampu dengan tegas menyatakan “saya laki-laki” atau “saya perempuan”.
3. Mengajarkan anak untuk melindungi dirinya dari kejahatan seksual.
*BAGAIMANA CARA MEMBANGKITKAN FITRAH SEKSUALITAS UNTUK ANAK SAYA?*
Pada framework pendidikan berbasis fitrah, membangkitkan fitrah seksualitas pada anak berbeda menurut tahap usia anak masing-masing. Kita bisa memyesuaikan dengan umur ananda.
Tahapan usia anak tersebut antara lain
: *Tahap Usia 0-2 tahun*
Anak lelaki maupun anak perempuan lebih didekatkan kepada Ibu karena masa menyusui. Menyusui adalah tahap awal penguatan semua konsepsi fitrah termasuk fitrah keimanan dan fitrah seksualitas.
*Tahap Usia 3-6 tahun*
Ini adalah Tahap Penguatan Konsepsi Gender dengan Imaji imaji positif tentang gendernya masing masing. Anak lelaki maupun anak perempuan harus didekatkan kepada Ayahnya dan kepada Ibunya. Ayah dan Ibu harus hadir pada fase ini. Indikator tumbuhnya fitrah seksualitas di tahap ini adalah anak dengan jelas dan bangga menyebut gendernya di usia 3 tahun.
*Tahap Usia 7-10 tahun*
Ini tahap Penyadaran Potensi Gender dengan beragam aktifitas yang relevan dengan gendernya. Anak lelaki yang telah ajeg konsep kelelakiannya pada usia 0-6 tahun, maka kini disadarkan potensi kelelakiannya langsung dari Ayah. Anak lelaki lebih didekatkan ke Ayah. Ayah mengajak anak lelakinya pada peran dan aktifitas kelelakian pada kehidupan dan sosialnya, termasuk menjelaskan mimpi basah, fungsi sperma dan mandi wajib. Begitupula anak perempuan lebih didekatkan ke Ibu untuk disadarkan peran keperempuanannya dalam kehidupan sosialnya. Indikator di tahap ini adalah anak lelaki kagum dan ingin seperti ayahnya, anak perempuan kagum dan ingin seperti ibunya.
*Tahap 11-14 tahun*
Ini tahap Pengujian Eksistensi melalui ujian dalam kehidupan nyata. Anak lelaki yang telah sadar potensi kelelakiannya kini harus diuji dengan memahami mendalam lawan jenisnya langsung dari ibunya. Maka anak lelaki di tahap ini lebih didekatkan kepada ibunya agar memahami cara pandang perempuan dari kacamata perempuan (dalam hal ini ibunya). Anak perempuan juga sebaliknya, lebih didekatkan ke ayahnya agar memahami mendalam bagaimana cara pandang lelaki dari kacamata lelaki (dalam hal ini ayahnya). Indikator di tahap ini adalah persiapan dan keinginan bertanggungjawab menjadi ayah bagi anak lelaki. Bagi anak perempuan adalah persiapan dan keinginan bertanggungjawab menjadi ibu
*Tahap => 15 tahun*
Ini tahap penyempurnaan fitrah seksualitas sehingga menjadi peran keayahbundaan. Ini adalah masa AqilBaligh atau anak bukan lagi anak anak, tetapi mitra bagi orangtuanya. Secara syariah mereka telah Mukalaf atau mampu memikul beban syariah, termasuk kemampuan untuk menikah atau menjadi ayah sejati atau menjadi ibu sejati. Semua ulama sepakat bahwa anak pada tahap ini sudah tidak wajib lagi dinafkahi, jikapun masih dinafkahi itu karena statusnya fakir miskin. Maka kewajiban orangtualah untuk mengantarkan anak anak mereka untuk aqilbaligh sempurna dan mencapai peran peradaban bukan hanya dalam profesi namun juga untuk berperan menjadi ayah sejati dan ibu sejati.
[5/16, 13:22] IIP Leti Nuraini: *Gimana ya solusinya untuk menghindari masalah2 seksualitas seperti gambar di atas?*
Menyeramkan yaa jika hal tsb terjadi pada keluarga kita, jangan galau ya mams, ada beberapa solusi yg bisa kita praktekan :
*1. Membekali pendidikan seks dan fiqih pada anak*
Anak diajari hukum-hukum fiqih secara bertahap, terutama tatakrama pendidikan seks yang dibutuhkan, seperti dilayih bagaimana cara bersuci setelah buang air besar, mengeluarkan sisa air kencing dalam batang penis, jika anak yang bersangkutan adalah laki-laki. Pengetahuan tentang cara menyucikan pakaian dari najis, dan mencuci noda darah pada badan atau pakaiannya ketika hendak shalat atau melakukan kegiatan lainya.
*2. Memberi batasan mengendalikan pandangan dan menutup aurat*
Menutup aurat bagi kedua orangtua dari anak mereka (secara khusus ibunya), dan jenis pakaian serta pengaruhnya terhadap perkembangan psikologis anak. Anak yang sudah mencapai usia balig wajib menutup aurat dari pandangan anak yang telah menginjak tamyiz, sebagaimana ia juga diharamkan untuk memandang aurat anak yang telah menginjak tamyiz atau menyentuhnya dengan dorongan syahwat.
*4. Pemisahan tempat tidur anak*
Pemisahan tempat tidur anak laki-laki dan anak perempuan dan pemisahan tempat tidur setiap jenis secara terpisah adalah kaidah pendidikan lain yang menunjang keberhasilan pendidikan seksual kita kepada anak-anak.
*5. Tempat tinggal yang layak*
Agar pendidik muslim dapat menanamkan kaidah-kaidah pendidikan seksual pada anak yang telah menginjak usia tamyiz terutama “meminta izin”dan “pemisahan tempat tidur”, membutuhkan tempat tinggal yang luas dan memenuhi aspek kesehatan.
*6. Membatasi dan mengawasi penggunaan gadget pada anak*
Untuk menghindarkan anak dari tontonan pornografi dan menjauhkan anak dari tontonan yang tidak mendidik,kita harus lebih ketat lagi dlam mengawasi anak anak,contohnya dengan menggunakan alarm pengingat untuk durasi menonton, password dan stricted mode di youtube dan menemani anak bermain gadget di sampingnya
Solusi tersebut bisa pula dengan pengenalan dengan media edukasi.
Ada beberapa media edukasi atau alat peraga untuk mengenalkan fitrah seksualitas pada anak, diantaranya dengan:
1. Mengenalkan organ tubuh dan perbedaan alat kelamin laki laki dan perempuan dengan media boneka atau poster
2. Mengenali ciri ciri laki laki dan perempuan dalam segi penampilan dengan media gambar
3. Mengenalkan video video edukatif untuk mencegah bahaya seksualitas,seperti link video berikut :
Sumber referensi:
Parents Guide “Growing Up usia 7-9 tahun), Metagraf Solo.
https://sketsanews.com/fitrah-seksualitas/ Elly Risman Musa
Sex Education For Children, Yusuf Madan.
Fitrah based education,harry sentosa
Pertanyaan :
1. Bagaimana menyikapi orang dewasa yang sudah terlanjur menyimpang dari fitrahnya?
Jika sudah mengalami penyimpangan seksual, ada beberapa hal yang perlu digali dulu inti masalahnya, salah satunya:
1. pola asuh --> bagaimana kedekatan ortu dan anak pada usia di bawah 7 tahun.
2. Bisa dilakukan terapi behaviour dan konseling keluarga, terapi dan koseling ini bisa dilakukan bersama ahli, misalnya bersama psikolog
3. Kerjasama dari berbagai pihak, yaitu keluarga, lingkungan dan ahli untuk meluruskan penyimpangan ini, oh ya.. 1 lg, inti masalahnya bukan hanya dari pola asuh, tapi apakah ada traumatik masa kecil? jika ada, obati dulu trauma nya.
2. terkait media edukasi, saya terpikir untuk menggunakan kegiatan berkisah dan read aloud sebagai salah satu media. Nah, saat saya searching judul buku cerita yang menunjang saya menemukan sebuah buku yang katanya children book yang berjudul "Mommy Laid an Egg" dimana di dalamnya terdapat ilustrasi tokoh ayah & ibunya sedang melakukan hubungan intim.
Bagaimana tanggapan teteh2 mengenai buku ini?
Menurut pendapat kelompok kami, ilmu tentang seks sangat penting dan harus disampaikan kepada anak2 kita sesuai dengan tingkatan umurnya. Pada usia 2-7 tahun,anak harus mengerti mengenai tubuhnya,jenis kelaminnya dan perbedaan alat kelamin laki laki dan perempuan juga fiqih mengenai bersuci. Setelah usia 7-10 tahun ke atas, anak boleh di ajarkan mengenai sperma,mandi basah dan mandi wajib..
Pada link youtube yang di share, kami sempat melihat..pelajaran seks education spt itu cocok untuk diajarkan anak di atas 10 tahun karna ada beberapa anak yang sudah menjalani masa pubertas sehingga sangat penting pendidikan seksualitas seperti itu diajarkan sehingga mereka tidak terjerumus dlm pergaulan bebas. Namun tentu saja harus dengan pembekalan ilmu agama juga sehingga mengerti mana yang haram mana yang halal
3. Bagaimana pandangan dari Lemari Ibu Petualang mengenai maraknyanya _LGBT_ dan _transgender_ jika dikaitkan dengan materi yang telah disampaikan ?
Kemungkinan, penyimpangan seksual tersebut terjadi karena pendekatan yang kurang maksimal di setiap tahapan usia, yang membuat anak bingung dengan gendernya.
Kita pun pernah mendengar istilah _fatherless generation_, dimana sebuah keluarga hidup tanpa ayah. Dan tanpa ayah disini bukan fisik, melainkan jiwa. Sehingga anak mencari sosok ayah di tempat yang lain, yang seringkali tidak tepat
Penutup :
Memaksimalkan diri untuk mendidik anak adalah satu-satunya yang bisa kita lakukan.
Kita tidak bisa memungkiri adanya hal tidak baik diluar sana, kita tak bisa cegah hal itu terjadi. Tapi, kita BISA memberikan imun untuk anak kita, agar kuat menghadapi dunia.
♥
#niatnya mau banyak bercuap cuap dulu ,ah tapi lagi kerja kelompok buat tampil besok ..Hehehe .. Happy reading. ..
------------------------------------
*APA ITU FITRAH?*
Setiap anak lahir dengan fitrahnya masing-masing. Tugas orangtua adalah membangkitkan fitrah yang dimiliki anak, agar fitrah-fitrah tersebut mampu berkembang optimal.
Sebelum kita lebih jauh memahami fitrah seksualitas,ada baiknya kita memahami makna fitrah sesuai dengan pedoman hidup kita.
Merujuk pada pilihan ayat dalam Al Qur’an yakni Surat Ar Rum ayat 30.
_“maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada penciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui"_
*Pengertian*
Fitrah seksualitas adalah bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai dengan fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati.
*PRINSIP FITRAH SEKSUALITAS*
_Prinsip 1_ : Fitrah Seksualitas memerlukan kehadiran, kedekatan, kelekatan Ayah dan Ibu secara utuh dan seimbang sejak anak lahir sampai usia aqilbaligh (15 tahun)
_Prinsip 2_ : Ayah berperan memberikan Suplai Maskulinitas dan Ibu berperan memberikan Suplai Femininitas secara seimbang. Anak lelaki memerlukan 75% suplai maskulinitas dan 25% suplai feminitas. Anak perempuan memerlukan suplai femininitas 75% dan suplai maskulinitas 25%.
_Prinsip 3_ : Mendidik Fitrah seksualitas sehingga tumbuh indah paripurna akan berujung kepada tercapainya Peran Keayahan Sejati bagi anak lelaki dan Peran Keibuan sejati bagi anak perempuan. Buahnya berupa adab mulia kepada pasangan dan anak keturunan
*KENAPA SIH KITA PERLU MEMBERIKAN PENDIDIKAN FITRAH SEKSUALITAS PADA ANAK?*
Ada tiga tujuan utama yang ingin dicapai pada pendidikan fitrah seksualitas :
1. membuat anak mengerti tentang identitas seksualnya. Anak bisa memahami bahwa dia itu laki-laki ataupun perempuan.
2. mengenali peran seksualitas yang ada pada dirinya. Anak mampu menempatkan dirinya sesuai peran seksualitasnya.
Seperti cara berbicara, cara berpakaian atau merasa, berpikir dan bertindak.
Sehingga anak akan mampu dengan tegas menyatakan “saya laki-laki” atau “saya perempuan”.
3. Mengajarkan anak untuk melindungi dirinya dari kejahatan seksual.
*BAGAIMANA CARA MEMBANGKITKAN FITRAH SEKSUALITAS UNTUK ANAK SAYA?*
Pada framework pendidikan berbasis fitrah, membangkitkan fitrah seksualitas pada anak berbeda menurut tahap usia anak masing-masing. Kita bisa memyesuaikan dengan umur ananda.
Tahapan usia anak tersebut antara lain
: *Tahap Usia 0-2 tahun*
Anak lelaki maupun anak perempuan lebih didekatkan kepada Ibu karena masa menyusui. Menyusui adalah tahap awal penguatan semua konsepsi fitrah termasuk fitrah keimanan dan fitrah seksualitas.
*Tahap Usia 3-6 tahun*
Ini adalah Tahap Penguatan Konsepsi Gender dengan Imaji imaji positif tentang gendernya masing masing. Anak lelaki maupun anak perempuan harus didekatkan kepada Ayahnya dan kepada Ibunya. Ayah dan Ibu harus hadir pada fase ini. Indikator tumbuhnya fitrah seksualitas di tahap ini adalah anak dengan jelas dan bangga menyebut gendernya di usia 3 tahun.
*Tahap Usia 7-10 tahun*
Ini tahap Penyadaran Potensi Gender dengan beragam aktifitas yang relevan dengan gendernya. Anak lelaki yang telah ajeg konsep kelelakiannya pada usia 0-6 tahun, maka kini disadarkan potensi kelelakiannya langsung dari Ayah. Anak lelaki lebih didekatkan ke Ayah. Ayah mengajak anak lelakinya pada peran dan aktifitas kelelakian pada kehidupan dan sosialnya, termasuk menjelaskan mimpi basah, fungsi sperma dan mandi wajib. Begitupula anak perempuan lebih didekatkan ke Ibu untuk disadarkan peran keperempuanannya dalam kehidupan sosialnya. Indikator di tahap ini adalah anak lelaki kagum dan ingin seperti ayahnya, anak perempuan kagum dan ingin seperti ibunya.
*Tahap 11-14 tahun*
Ini tahap Pengujian Eksistensi melalui ujian dalam kehidupan nyata. Anak lelaki yang telah sadar potensi kelelakiannya kini harus diuji dengan memahami mendalam lawan jenisnya langsung dari ibunya. Maka anak lelaki di tahap ini lebih didekatkan kepada ibunya agar memahami cara pandang perempuan dari kacamata perempuan (dalam hal ini ibunya). Anak perempuan juga sebaliknya, lebih didekatkan ke ayahnya agar memahami mendalam bagaimana cara pandang lelaki dari kacamata lelaki (dalam hal ini ayahnya). Indikator di tahap ini adalah persiapan dan keinginan bertanggungjawab menjadi ayah bagi anak lelaki. Bagi anak perempuan adalah persiapan dan keinginan bertanggungjawab menjadi ibu
*Tahap => 15 tahun*
Ini tahap penyempurnaan fitrah seksualitas sehingga menjadi peran keayahbundaan. Ini adalah masa AqilBaligh atau anak bukan lagi anak anak, tetapi mitra bagi orangtuanya. Secara syariah mereka telah Mukalaf atau mampu memikul beban syariah, termasuk kemampuan untuk menikah atau menjadi ayah sejati atau menjadi ibu sejati. Semua ulama sepakat bahwa anak pada tahap ini sudah tidak wajib lagi dinafkahi, jikapun masih dinafkahi itu karena statusnya fakir miskin. Maka kewajiban orangtualah untuk mengantarkan anak anak mereka untuk aqilbaligh sempurna dan mencapai peran peradaban bukan hanya dalam profesi namun juga untuk berperan menjadi ayah sejati dan ibu sejati.
[5/16, 13:22] IIP Leti Nuraini: *Gimana ya solusinya untuk menghindari masalah2 seksualitas seperti gambar di atas?*
Menyeramkan yaa jika hal tsb terjadi pada keluarga kita, jangan galau ya mams, ada beberapa solusi yg bisa kita praktekan :
*1. Membekali pendidikan seks dan fiqih pada anak*
Anak diajari hukum-hukum fiqih secara bertahap, terutama tatakrama pendidikan seks yang dibutuhkan, seperti dilayih bagaimana cara bersuci setelah buang air besar, mengeluarkan sisa air kencing dalam batang penis, jika anak yang bersangkutan adalah laki-laki. Pengetahuan tentang cara menyucikan pakaian dari najis, dan mencuci noda darah pada badan atau pakaiannya ketika hendak shalat atau melakukan kegiatan lainya.
*2. Memberi batasan mengendalikan pandangan dan menutup aurat*
Menutup aurat bagi kedua orangtua dari anak mereka (secara khusus ibunya), dan jenis pakaian serta pengaruhnya terhadap perkembangan psikologis anak. Anak yang sudah mencapai usia balig wajib menutup aurat dari pandangan anak yang telah menginjak tamyiz, sebagaimana ia juga diharamkan untuk memandang aurat anak yang telah menginjak tamyiz atau menyentuhnya dengan dorongan syahwat.
*4. Pemisahan tempat tidur anak*
Pemisahan tempat tidur anak laki-laki dan anak perempuan dan pemisahan tempat tidur setiap jenis secara terpisah adalah kaidah pendidikan lain yang menunjang keberhasilan pendidikan seksual kita kepada anak-anak.
*5. Tempat tinggal yang layak*
Agar pendidik muslim dapat menanamkan kaidah-kaidah pendidikan seksual pada anak yang telah menginjak usia tamyiz terutama “meminta izin”dan “pemisahan tempat tidur”, membutuhkan tempat tinggal yang luas dan memenuhi aspek kesehatan.
*6. Membatasi dan mengawasi penggunaan gadget pada anak*
Untuk menghindarkan anak dari tontonan pornografi dan menjauhkan anak dari tontonan yang tidak mendidik,kita harus lebih ketat lagi dlam mengawasi anak anak,contohnya dengan menggunakan alarm pengingat untuk durasi menonton, password dan stricted mode di youtube dan menemani anak bermain gadget di sampingnya
Solusi tersebut bisa pula dengan pengenalan dengan media edukasi.
Ada beberapa media edukasi atau alat peraga untuk mengenalkan fitrah seksualitas pada anak, diantaranya dengan:
1. Mengenalkan organ tubuh dan perbedaan alat kelamin laki laki dan perempuan dengan media boneka atau poster
2. Mengenali ciri ciri laki laki dan perempuan dalam segi penampilan dengan media gambar
3. Mengenalkan video video edukatif untuk mencegah bahaya seksualitas,seperti link video berikut :
Sumber referensi:
Parents Guide “Growing Up usia 7-9 tahun), Metagraf Solo.
https://sketsanews.com/fitrah-seksualitas/ Elly Risman Musa
Sex Education For Children, Yusuf Madan.
Fitrah based education,harry sentosa
Pertanyaan :
1. Bagaimana menyikapi orang dewasa yang sudah terlanjur menyimpang dari fitrahnya?
Jika sudah mengalami penyimpangan seksual, ada beberapa hal yang perlu digali dulu inti masalahnya, salah satunya:
1. pola asuh --> bagaimana kedekatan ortu dan anak pada usia di bawah 7 tahun.
2. Bisa dilakukan terapi behaviour dan konseling keluarga, terapi dan koseling ini bisa dilakukan bersama ahli, misalnya bersama psikolog
3. Kerjasama dari berbagai pihak, yaitu keluarga, lingkungan dan ahli untuk meluruskan penyimpangan ini, oh ya.. 1 lg, inti masalahnya bukan hanya dari pola asuh, tapi apakah ada traumatik masa kecil? jika ada, obati dulu trauma nya.
2. terkait media edukasi, saya terpikir untuk menggunakan kegiatan berkisah dan read aloud sebagai salah satu media. Nah, saat saya searching judul buku cerita yang menunjang saya menemukan sebuah buku yang katanya children book yang berjudul "Mommy Laid an Egg" dimana di dalamnya terdapat ilustrasi tokoh ayah & ibunya sedang melakukan hubungan intim.
Bagaimana tanggapan teteh2 mengenai buku ini?
Menurut pendapat kelompok kami, ilmu tentang seks sangat penting dan harus disampaikan kepada anak2 kita sesuai dengan tingkatan umurnya. Pada usia 2-7 tahun,anak harus mengerti mengenai tubuhnya,jenis kelaminnya dan perbedaan alat kelamin laki laki dan perempuan juga fiqih mengenai bersuci. Setelah usia 7-10 tahun ke atas, anak boleh di ajarkan mengenai sperma,mandi basah dan mandi wajib..
Pada link youtube yang di share, kami sempat melihat..pelajaran seks education spt itu cocok untuk diajarkan anak di atas 10 tahun karna ada beberapa anak yang sudah menjalani masa pubertas sehingga sangat penting pendidikan seksualitas seperti itu diajarkan sehingga mereka tidak terjerumus dlm pergaulan bebas. Namun tentu saja harus dengan pembekalan ilmu agama juga sehingga mengerti mana yang haram mana yang halal
3. Bagaimana pandangan dari Lemari Ibu Petualang mengenai maraknyanya _LGBT_ dan _transgender_ jika dikaitkan dengan materi yang telah disampaikan ?
Kemungkinan, penyimpangan seksual tersebut terjadi karena pendekatan yang kurang maksimal di setiap tahapan usia, yang membuat anak bingung dengan gendernya.
Kita pun pernah mendengar istilah _fatherless generation_, dimana sebuah keluarga hidup tanpa ayah. Dan tanpa ayah disini bukan fisik, melainkan jiwa. Sehingga anak mencari sosok ayah di tempat yang lain, yang seringkali tidak tepat
Penutup :
Memaksimalkan diri untuk mendidik anak adalah satu-satunya yang bisa kita lakukan.
Kita tidak bisa memungkiri adanya hal tidak baik diluar sana, kita tak bisa cegah hal itu terjadi. Tapi, kita BISA memberikan imun untuk anak kita, agar kuat menghadapi dunia.
♥
Komentar
Posting Komentar