Belajar dari Ummu Sulaim

Banyak istri yang mengeluhkan suaminya yang (terkesan)  enggak mau ikut campur dalam pengasuhan anak. Ngerasa kalau suaminya tuh menyerahkan sepenuhnya urusan mendidik anak kepada ibunya dan melabeli kalau suaminya itu tidak se~visi dengannya.

Lantas para istri mengeluh, gimana supaya suami mereka mau ikut juga mendidik langsung anak mereka.

Jawabannya,  kita belajar dari kisah Ummu Sulaim yuk, beliau adalah ibunda dari Anas bin Malik. Pasti tau dong siapa Anas bin Malik? Ya..  Beliau termasuk sahabat Rasulullah yang paling banyak meriwayatkan hadist,  karena beliau tumbuh besar di lingkungan keluarga Rasulullah sebagai pembantu setia Rasulullah.

Jauh sebelum Anas bin Malik menjadi ulama besar,  ibundanya sudah memiliki visi yang besar kepada anaknya ini. Ketika kabar keislaman sampai di Madinah,  Ummu Sulaim memeluk agama Islam. Di saat itu, suaminya Malik tidak menerima ajaran Islam dan marah apabila Ummu Sulaim menalqin anaknya dengan kalimat tauhid. Malik merasa Ummu Sulaim merusak keyakinan anaknya dan murtad dari ajaran leluhurnya.

Disini kita stop dulu,  jelas terlihat seberapa besar perbedaan visi diantara pasangan suami istri tersebut. Beda akidah.  Beda Tuhan yang disembah.

Selanjutnya, suami Ummu Sulaim ini marah dan malah meninggalkan Ummu Sulaim dan Anas di Madinah. Dia pergi ke Syam dan meninggal disana.

Terbayangkan ( buat saya yang melankolis) rasanya ditinggalkan suami pergi seperti apa. Dengan kondisi single parent, Ummu Sulaim semakin semangat mendidik anaknya.

Dalam riwayat,  Anas bin Malik menceritakan;  Ketika Rasulullah tiba di Madinah, aku baru berumur delapan tahun. Waktu itu ibu menuntunku menghadap Rasulullah seraya berkata : " Wahai Rasulullah,  tak tersisa seorang Anshar pun kecuali datang kepadamu dengan hadiah istimewa,  namun aku tak mampu memberimu hadiah kecuali puteraku ini,  maka ambillah dia dan suruhlah dia membantumu kapan saja engkau inginkan" .

Ummu Sulaim paham,  bahwa dengan anaknya menjadi pembantu Rasulullah akan banyak hikmah dan keberkahan yang diberikan kepada anaknya.

Hikmah besar yang saya petik adalah ketika seorang ibu memiliki visi yang besar terhadap anaknya,  itu sudah jadi modal yang cukup untuk mendidik anak. Memang lebih terasa lengkap kalau sevisi sama suami apalagi sama keluarga besar.

Contoh kisah nyata ini kita temukan pada sosok Urwah bin Zubeir. Masyaallah... Beliau ini dikelilingi oleh kelurga yang shalih. Ayahnya adalah Zubeir bin Awwam, pembela Islam yang namanya termasuk kedalam 10 orang yang diberi kabar masuk surga. Kakaknya kandungnya adalah Abdullah bin Zubeir,  pahlawan Islam dan seorang yang alim. Ibunya adalah Asma binti Abu bakar,  dan jelaslah kakeknya adalah Abu Bakar As Shidiq.. Sahabat setia Rasulullah... 

Bisa jadi memang kita mengharapkan keluarga yang utuh keshalihannya,  seperti Urwah yang dididik dalam kelurga yang shalih. Sehingga memudahkan punya visi yang sama dalam mendidik anak dan keturunan.

Tapi baik dalam keluarga yang utuh ataupun tidak,  baik yang sevisi ataupun tidak, sejarah mencatat bahwa dibalik tokoh besar,  selalu ada ibu yang kuat mendidik anaknya. Beragam ujiannya, beragam perjuangannya,  tapi selalu ada ibu yang kuat dan bervisi besar terhadap anaknya. Bercita2 anaknya menjadi orang besar.

Bukankah ini bisa jadi kabar gembira untuk kita? Para ibu yang berjuang mendidik anaknya. Bersyukurlah kita,  diberi pasangan yang seakidah, walau berbeda visi,  tapi yang penting tidak menyangkut perbedaan visi masuk surga kan?? Bukankah Tuhan yang kita sembah masih sama??  Lantas apa yang perlu dikhawatirkan??  Khawatirkanlah kebulatan niat kita,  kesungguhan kita dalam mendidik anak. Bisa jadi, kita terlalu sibuk menyamakan visi dengan suami,  tapi lupa bahwa visi mendidik anak itu pertama dimulai dari kita : IBU~nya..

#ntms

Komentar

Postingan populer dari blog ini

sekolah impres di kaki bukit Sadahurip

Harimau sakit Gigi || Dongeng

Aliran Rasa Kelas Ulat