Bersahabat dengan Berhijab

Bersahabat dengan laki-laki (ikwan ) itu memang rentan bagi perempuan. Bukan karena alasan rentan jatuh cinta tapi ada hal-hal lain yang kadang tak tersadari oleh kedua belah pihak. Dalam Islam, laki-laki dan perempuan tidak boleh bercampur, seharusnya saya memang mematuhi aturan ini. Tapi, sulit rasanya, karena saya senang bergaul dengan siapapun. Bahkan saya punya beberapa sahabat laki-laki. Bagi mereka yang sadar dan tahu aturan bagaimana bersahabat tapi tetap bisa menjaga hijab, tampaknya saya tidak terlalu repot. Tapi, akan lain ceritanya ketika seseorang yang sudah saya anggap sahabat, namun membuat rasa tak nyaman dalam konteks laki-laki dan perempuan bukan sebagai konteks dua orang sahabat.



Saya memang bukanlah wanita bergamis selalu dan berjilbab lebar, saya pun tak pernah menundukkan pandangan ketika berbicara dengan lawan jenis. Namun, sedikitnya saya tahu bahwa laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim tidak boleh pergi berdua-duaan ataupun kontak fisik. Bukannya sok suci, namun saya hanya ingin berubah. Yaaa.. saya hanya ingin berubah…

Ada sahabat saya yang mungkin secara tidak sadar, sering memegang tangan saya ketika berbicara atau hendak menyebrang. Saya sering mengomel dengan bilang “Ga usah pegang-pegang juga bisa kan?”. Saya tahu bahwa ia juga tidak berniat seperti itu, tapi saya kesal.

Cerita lain datang dari sahabat lainnya, entah mengapa beberapa minggu belakangan sering mendapatkan sms ajakan untuk main, nonton, pergi kemana ataupun niatnya main ke rumah. Memang hal yang wajar , bahkan sangat wajar ketika ajakan itu dari teman perempuanmu .Namun, sedikit menyebalkan ketika ajakan itu datang dari teman lelakimu.

Sekali lagi saya katakan, bukannya sok suci namun saya hanya ingin sedikit berubah. Yaa.. berubah. Saya hanya ingin menjaga hijab antara laki-laki dan perempuan. Pergi berdua-duaan itu tidak baik, bahkan orang tua saya pun memperlihatkan wajah yang kurang setuju ketika saya meminta izin untuk pergi berdua dengan laki-laki.

Semua ajakan beberapa minggu belakangan memang selalu berakhir dengan kata ‘Maaf, ga bisa’. Tak sadarkah ketika saya mengatakan tidak, itu berarti ajakan sejenisnya pun akan berakhir dengan kalimat yang sama?. Tampaknya saya tak perlu kan mengatakan bahwa saya tidak bisa karena saya ingin menjaga jarak? Saya tak ingin bukan karena saya tak mau menemani sahabat saya, bukan karena saya tak ingin mendengarkan keluh kesahnya, namun karena saya hanya ingin menjaga.. ya menjaga…

Saya yakin, ajakan itu memang sebatas ajakan sahabat kepada sahabatnya,  saya sangat yakin tak ada niat lain di luar itu. Namun, sekali lagi saya katakan, saya hanya dan sedang belajar menjaga hijab. .. Ya menjaga hijab.
Bukannya sok suci……

Jadi, walau dari luar saya terlihat supel namun ingat bahwa saya wanita dan mari sama-sama menjaga hijab. Bersahabat, namun tetap berhijab akan lebih membuat saya merasa nyaman dan aman. Mengapa? Karena saya yakin bahwa sahabat saya adalah laki-laki baik-baik yang akan menjaga saya dengan cara yang terjaga. Insyaallah…

Wallahu’alam…

* Hijab, yang secara lughoh berarti tirai atau dinding.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

sekolah impres di kaki bukit Sadahurip

Harimau sakit Gigi || Dongeng

Aliran Rasa Kelas Ulat